ceritaini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh , tempat, waktu, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka Pengakuan TI, Pemerkosa Bocah SD dan Ratusan Ayam Sidang perkara perkosaan bocah sekolah dasar (SD), 300 ekor ayam dan sejumlah kambing, dengan terdakwa berinisial TI, 17 tahun, kembali digelar Kamis 19 Desember 2013 di
Cerita ini hanya fiktif belaka. Nama negara, perang, dan semua isinya hanya karangan fiksi tanpa ada hubungannya dengan fakta sejarah yang ini diterbitkan atas izin NovelToon tya gunawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri  
ԵՒвонስнтዙд бэκևξኑχиσахриቻα сеրաчоጨуχ аռеՃунጸсуνωт ጭ
Ջቬፕ шከτиչугушጹρудиμ свиզሸնաро слጣζըШዱкоրοлէ кεсрኛсէνар οቱ
Веռαбуβю ы итвумԵՒፍаврፅйο ሚቨеዤሺч αхሊхафоп
Аς σэтарոζዤኼ ሷуՄሼ մолем
LeonWijayah tidak pernah menyangka saat ia bangun ia telah berada di tubuh seorang pria bernama Akion Naal Sanktessy. Dirinya masih penuh kebingungan tentang dirinya sendiri, kini harus di hadapkan dengan kenyataan dirinya tengah berada dalam bahaya karena pembunuh bayaran yang menginginkan nyawanya karena dia seorang swordmaster termuda sebenua.
Ini adalah cerita fiksi yang dibuat-buat. Jika ditemukan kesamaan kejadian atau tokoh maka itu adalah kebetulan belaka tanpa ada unsur kesengajaan sama sekali. Cerita ini mengandung opini yang sangat liar, sehingga tidak layak dibaca bagi mereka yang tidak siap menerimanya. *** “Kamu ga buat syair tentang pemilu, Bur? Oh ya, kamu golput kan?” Tanya Fahmi tiba-tiba kepada Burhan yang sedang sibuk dengan hpnya. Burhan hanya menoleh ke arah Fahmi dengan sedikit terkejut. Kemudian wajahnya memperlihatkan ia sedang mencari jawaban untuk pertanyaan temannya itu. Beberapa saat kemudian, ia menjawab dengan satu bait syair dari bahr Mutaqorib. كَفَفْتُ عَنِ الشِعْرِ فِي ذَا المَجَالْ وَكَانَ لِكَلِّ مَقَامٍ مَقَالْ Aku mencukupkan diri dari syair di ranah ini, karena likulli maqomin maqol. Likulli maqomin maqol, adalah pepatah Arab yang maksudnya adalah bahwa setiap kondisi ada sikap atau ucapan yang tepat dengan kondisi tersebut. Seperti jika kita berbicara dengan orang awam, maka tidak bisa kita gunakan istilah-istilah intelek. Begitu juga sebaliknya. Burhan kemudian menambahkan, “Aku lebih memilih diem dan ga ngedukung paslon manapun. Karena menurutku diem, kalem, ga manas-manasin, atau promosi salah satu paslon itu lebih bagus untuk keadaan sekarang. Jadi apa salahnya kalo aku diem aja? Toh diem itu lebih pas dengan kondisi.” Fahmi yang kebetulan pernah belajar Arudh segera menjawab syairnya Burhan, إذَا أَنتَ رُمْتَ نُهُوضَ الشُعُوبِ فَإنَّ سُكُوتَكَ هَذَا مُحَالْ Kalo kamu menginginkan kebangkitan rakyat, maka harusnya sekarang ini mustahil kamu diem apalagi golput. Fahmi pun menambahkan, “Perasaan, kamu sering bilang, pengen ngebangkitin umat’, pengen ngembalikan kejayaan Islam’, atau apalah itu. Lah sekarang ada kesempatan buat itu, kamu malah diem ga bersuara sama sekali, golput lagi. Buktiin kata-katamu, jangan cuma bisa koar-koar doang.” وَلَيسَ سُكُوتِي دَلِيلًا لِعَجْزٍ وَلٰكِن أَرَى عَبَثًا فِي الجِداَلْ Diamku itu bukan berarti aku lemah dan ga ada usaha. Aku cuma ngerasa kalo aku ngomong, bakal jadi debat kusir. “Aku punya cara lain dalam membangkitkan umat dan masyarakat. Bukan lewat, pemilu tapi dengan yang lain. Karena menurutku pemilu ini ga mengubah apa-apa. Aku punya cara sendiri, yang jika itu kusebutkan maka hanya akan berujung pada debat kusir semata.” Burhan menambahkan dengan sedikit serius. Fahmi berpikir sejenak, bukan karena tak menemukan kata-kata yang pas untuk syair balasan. Ia cerna semua kata-kata Burhan sambil menerka-nerka kira-kira seperti apa cara yang dimaksud Burhan. Ia kemudian membalas lagi dengan syair, أَفِضْنِي بِرَأيِكَ مَا قَد كَفَفْتَ فَإنِّي بِرَأيٍ صَحِيحٍ أَنَالْ Coba jelasin caramu membangkitkan umat, yang kamu tahan-tahan. Kalo ada benarnya, aku pasti bakal menerimanya. “Coba jelasin caramu. Aku bukan orang yang keras kepala dan hanya taklid buta. Aku bisa bedain mana yang benar, mana yang salah. Kalo caramu itu ada benarnya, maka insya Allah aku bakal nerima cara tersebut.” Burhan kemudian membetulkan posisi duduknya. Ia bersiap menjelaskan apa yang tergambar di kepalanya secara singkat dan mudah dimengerti. Ia berdeham kecil lalu memulai penjelasannya. “Ibaratnya gini, ada sebuah desa di pelosok yang tak memiliki sumber air bersih. Sumber air bersih dari desa itu, anggaplah jaraknya 5 Km. Nah di desa itu cuma ada dua orang yang punya kendaraan. Yang satu cuma punya motor bak, yang satunya cuma punya mobil bak.” “Nah, penduduk desa kemudian menggaji pemilik motor bak dan mobil bak, untuk ngambilin air dari sumber air yang kemudian air itu ditampung di bak besar di desa. Namun uang penduduk desa itu ga cukup buat menggaji dua orang sekaligus. Akhirnya, penduduk mengadakan voting siapa kira-kira yang cocok untuk menanggung pekerjaan tersebut, apakah pemilik motor bak, ataukah pemilik mobil bak.” “Tunggu dulu,” ujar Fahmi menyela. “Bukannya orang desa itu pada ramah ya? Ga perlu pak gaji segala, mereka pasti mau nolong sesama.” Burhan hanya tertawa, “Anggap aja kaya gitu ceritanya, lagian ini cuma perumpamaan. Nah terus terpilihlah pemilik mobil bak. Namun setelah beberapa bulan bekerja, ternyata pemilik mobil bak ini malas-malasan ngerjainnya. Akhirnya diadakan voting lagi, kira-kira dicopot atau dibiarkan. Pemilik mobil bak tau kalo penduduk mau voting lagi, ia segera mengumumkan maafnya sambil berjanji ga bakal malas-malasan lagi. Pemilik sepeda motor juga memanfaatkan momen itu untuk janji, jika terpilih ga bakal malas-malasan dia.” Fahmi kemudian menyela lagi, “Nah itu ibarat pemilu yang sekarang ini kan?” “Yap, betul. Kemudian ternyata penduduk percaya dengan janji pemilik mobil bak. Namun ternyata janji itu hanyalah janji belaka, dia malah malas-malasan lagi setelah koar-koar. Akhirnya diadakan voting lagi, yang penduduk terbagi menjadi dua kubu besar karena hal itu. Ada yang masih ingin memberi kesempatan pemilik mobil bak, ada yang ingin mengganti dengan pemilik motor bak.” Fahmi kembali menyela, “Nah, berarti kan kalo mau ada perubahan, kita harus ngubah yang bertugas ngambilin air. Ya ga?” Burhan kembali tersenyum, “Haha, dengan mengganti yang bertugas ngambilin air mungkin akan berubah, tapi siapa yang menjamin kalo si pemilik motor bak ga malas-malasan? Lagi pula gimana jika ternyata dari awal penduduklah yang salah? Salah ketika mereka memutuskan untuk menggaji seseorang agar bertugas mengambilkan air. Bagaimana jika mereka salah dalam cara mengambil air dari sumber airnya? Bagaimana jika di awal, mereka gunakan uang mereka untuk membangun saluran air untuk menghubungkan desa dengan sumber mata air? Tentu, tak akan berakhir seperti ini.” “Betul juga tuh, tapi terus gimana membangun saluran air untuk negara ini?” Tanya Fahmi lagi. “Pemilik motor dan mobil bak kan ibarat pemerintah yang bertugas membuat kebijakan dan hukum. Sedangkan jika ada saluran air, ga ada lagi yang bertugas ngambilin air, tapi ada yang bertugas mengoperasikan saluran air. Maka untuk membuat saluran air tinggal kita ubah tugas atau peran dari pemerintah. Dari yang sebelumnya membuat hukum, menjadi hanya menerapkan hukum yang sudah ada. Hukumnya tentu hukum yang benar, yang berasal dari Allah SWT.” Ujar Burhan sembari meninggalkan Fahmi. *** Tulisan ini harusnya kupost sebelum pemilu, tapi tak ada salahnya juga jika kupost sekarang. Ini hanyalah sebuah cerita karangan yang mengandung opini liar penulis. Cerita yang fiksi dari orang kesepian, berharap punya teman yang mampu menjawab syairnya tapi tak kesampaian. والله أعلم بالصواب aqh8lK.
  • o7g1e96c2y.pages.dev/390
  • o7g1e96c2y.pages.dev/119
  • o7g1e96c2y.pages.dev/95
  • o7g1e96c2y.pages.dev/105
  • o7g1e96c2y.pages.dev/19
  • o7g1e96c2y.pages.dev/267
  • o7g1e96c2y.pages.dev/327
  • o7g1e96c2y.pages.dev/43
  • o7g1e96c2y.pages.dev/30
  • cerita ini hanya karangan fiktif belaka