44. Menguraikan kronologi perubahan, dan kesinambungan dalam kehidupan bangsa Indonesia pada aspek politik, sosial. budaya, geografis, dan pendidikan sejak masa praaksara sampai masa Hindu Buddha dan Islam. Dalam rangka mencapai Kompetensi Inti Spiritual KI-1, dilakukan dengan cara menghargai, berpikir dan berperilaku sebagai makhluk beragama. Hindu Budha Di Indonesia Perkembangan, Teori, Sejarah dan Pengaruh adalah Keterlibatan bangsa Indonesia didalam kegiatan perdagangan serta juga pelayaran internasional yang menyebabkan timbulnya percampuran budaya. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Pengertian Dan Sifat Kebudayaan Terlengkap Pada permulaan tarikh masehi, pada Benua Asia terdapat 2dua negeri besar yang tingkat peradabannya itu dianggap sudah tinggi, yaitu India dan juga Cina. Kedua negeri tersebut menjalin hubungan ekonomi serta juga perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan serta juga pelayaran berlangsung dengan melalui jalan darat serta laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilalui oleh India-Cina ialah Selat Malaka. Indonesia terletak di jalur posisi silang dua benua serta juga dua samudera, dan juga berada di dekat Selat Malaka mempunyai keuntungan, yakni Sering dikunjungi oleh bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, serta juga Persia, Kesempatan untuk dapat melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka dengan lebar, Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain juga akan semakin luas, Pengaruh dari bangsa asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha. Keterlibatan bangsa Indonesia didalam kegiatan perdagangan serta juga pelayaran internasional yang menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India adalah negara pertama bangsa yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yakni didalam bentuk budaya Hindu. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Suku Mandobo – Bahasa, Kekerabatan, Kepercayaan, Kebudayan, Mata Pencaharian Teori Masuk Hindu Budha Indonesia Perkembangan ajaran Hindu-Budha di Indonesia tidak terlepas dari letak strategis Indonesia yang menjadikannya sebagai daerah dengan banyaknya orang asing yang ingin melakukan perdagangan di Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, maka disebarkanlah ajaran –ajaran termasuk di dalamnya ajaran Hindu-Budha. Ajaran Hindu-Budha telah banyak mewarnai kehidupan di negeri ini. Akan tetapi, proses pasti dari masuknya agama Hindu-Budha di Indonesia masih belum terkuak. Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah perihal masuk dan berkembangnya agama Hindu-Budha di Indonesia. Teori tersebut adalah Teori Brahmana Teori ini dikemukakan oleh Leur. Dia berpendapat bahwasanya ajaran agama Hindu-Budha di Indonesia dikembangkan oleh para kaum Brahmana golongan pemuka agama dari negeri India. Hal ini didukung dengan penemuan-penemuan prasasti di Indonesia yang hamper semuanya menggunakan huruf Pallawa atau Sansakerta. Di India, aksara dan bahasa Pallawa maupun Sansakerta hanya dikuasai oleh kaum Brahmana. Selain dari bukti prasasti yang menjadi bukti teori Brahmana, terdapat satu lagi hal yang menjadi bukti pendukung teori ini, yaitu kebiasaan ajaran Hindu di Indonesia hampir sama dengan ajaran Hindu di India. Di dalam ajaran Hindu, pengajaran agama yang baik dan benar hanya boleh dilakukan oleh kaum Brahmana, dikarenakan mereka mempunyai ilmu yang cukup untuk menyebarkannya. Para kaum Brahmana dari negeri India diundang oleh para ketua suku di nusantara untuk mengembangkan dan mengajarkan ajaran agama Hindu-Budha di Indonesia. Pada saat itu, di Indonesia masih menganut kepercayaan animism atau dinamisme. Teori Waisya Teori ini berpendapat bahwa ajaran agama Hindu-Budha di Indonesia dibawa masuk dan berkembang berkat peran dari penganut agama dari golongan Waisya pedagang yang merupakan mayoritas penduduk di India. Para pedagang ini selain melakukan perdagangan di Nusantara, juga menyebarkan paham agama Hindu-Budha di Indonesia. Pada zaman tersebut, pelayaran masih sangat ditentukan oleh musim angin atau tidak. Saat musim angin tidak ada, maka para pedagang dari India tidak bisa kembali ke daerahnya dengan menggunakan kapal-kapal. Maka pada saat itu, mereka menetap sementara di wilayah nusantara sampai musim angin tiba. Diantara kegiatan mereka pada saat menetap ialah menyebarkan kepada penduduk pribumi ajaran agama Hindu-Budha. Teori ini dikemukakan oleh Teori Ksatria Dalam teori ini yang dikemukakan oleh Mookerji, dan ini berpendapat bahwasanya ajaran agama Hindu dan Budha di Indonesia dibawa oleh kaum golongan ksatria. Hal ini idak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan agama Hindu Budha di India. Saat itu di India, terjadi perebutan kekuasaan antara golongan penguasa kerajaan di India. Oleh karena itu, para golongan ksatria yang kalah perang harus melarikan diri ke daerah-daerah lain, tidak terkecuali Indonesia. Di Indonesia, mereka berusaha mendirikan kelompok-kelompokm dan pada akhirnya mendirikan sebuah kerajaan yang bercorak Hindu-Budha seperti pada daerah asalnya. Dalam perkembangannya, mereka juga menyebarkan ajraan gama Hindu-Budha kepada masyarakat lokal tempat kerajaan itu berdiri. Teori Arus Balik Nasional Dalam teori ini, penyebaran agama Hindu-Budha di Indonesia tidak terlepas dari pastisipasi aktif penduduk nusantara dalam menyebarkan ajaran ini. Pada saat pertama kali dikembangkan oleh para pemuka agam ahIndu-Budha dari negeri India, mereka tertarik dan pada akhirnya berusaha mempelajari ajaran tersebut ke negeri asalnya, yaitu India. Para penduduk lokal berangkat ke India untuk mempelajari langsung ajaran-ajaran yang dipraktekkan di dalam agama Hindu-budha. Jika dirasa sudah cukup, maka mereka pulang ke Indonesia dan menyebarkan ajaran yang telah mereka dapatkan dengan masyarakat lainnya. Teori ini dikembangkan oleh Bosch Teori Sudra Teorin ini dikembangkan oleh van Faber. Dia berpendapat bahwa ajaran agama Hindu-Budha dikembangkan di Indonesia melalui para kaum Sudra budak yang bermigrasi dari India ke Indonesia untuk mencari penghidupan dan kehidupan yang layak. Di samping itu, merekajuga menyebarkan ajaran agama Hindu-Budha kepad amayarakat lokal. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan “Sejarah Bangsa Akkadia” Definisi & Perekonomian – Bahasa – Kebudayaan – Kepercayaan Sejarah Kerajaan Hindu Budha di Indonesia Kerajaan Kutai Kerajaan Kutai terletak di Kalimantan Timur dan merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai adalah kerajaan bercorak agama Hindu pertama di Indonesia. Terdapat oeninggalan sejarah di kerajaan ini, diantaranya adalah tujuh buah prasasti yang dipahat di atas taing batu yang disebut dengan Yupa. Prasasti ini berbentuk huruf Pallawa dengan angka tahun di dalamnya ialah 400 M. dengan ditemukannya prasasti dengan huruf Pallawa ini, Indonesia sudah memasuki zaman sejarah dimana masyarakatnya sudah mengenal tulisan sebagai alat untuk berkomunikasi. Diantara raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Kutai ialah Kudungga, Asmawarman, dan Mulawarman. Kerajaan Taruma Negara Kerajaan ini ditemukan di daerah Bogor, Jawa Barat dan diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-5 Masehi. Diantara peninggalan-peninggalan kerajaan Taruma Negara yang terkenal diantaranya pasasti tugu, lebak, pasir awi, jambu, muara cireteun, dan prasasti kebon kopi. Dari prasasti-prasasti di atas, bercerita bahwasanya yang memerintah kerajaan Taruma Negara adalah seorang raja yang snagat bijaksana dan adil serta sangat memperhatikan kemakmuran pada rakyatnya. Ia adalah Purnawarman. Kerajaan Melayu Dharmasraya Kerajaan Melayu merupakan slaah satu kerajaan bercorak Hindu-Budha di daerah Sumatera. Selain kerajaan Melayu, terdapat satu lagi kerajaan bercorak Hindu-Budha di Indonesia, yaitu kerajaan Sriwijaya yang terletak di Sumatera Selatan. Kerajaan Melayu Dharmasraya terletak di daerah Jambi. Kerajaan Sriwijaya Kerajaan ini sudah berdiri sekitar abad ke-7 Masehi. Kerajaan Sriwijaya terletak di daerah Palembang, Sumatera Selatan. Bukti yang mendukung adanya kerajaan Sriwijaya adalah prasasti-prasasti yang berhuruf Pallawa, yaitu prasasti Talang Tuo, Kota Kapur, Karang Berahi, Kedukan Bukti,dan prasasti Telaga Batu. Dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui bahwa kerajaan Sriwijaya menganut ajaran agama Budha dengan puncak kejayaan berada pada saat raja Bala Putra Dewa memerintah. Kerajaan Majapahit Majapahit merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha yang terletak di desa Tarik, Mojokerto, Jawa Timur. Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya dengan puncak kejayaan berada saat Gajah Mada memerintah. Setelah itu, puncak kekuasaan digantikan oleh Hayam Wuruk. Setelah itu, kerajaan Majapahit sedikit demi sedikit mulai memudar dikarenakan karena penerus-penerus dari Hayam Wuruk tidam mempunyai kemampuan yang mumpuni. Selain itu, adanya perkembangan agama Islam dari kerajaan Demak juga snagat mempengaruhi runtuhnya kerajaan Majapahit. Kerajaan Bali Sesuai dengan namanya, kerajaan ini terletak di Pulau Bali. Kerajaan Bali merupakan kerajaan bercorak Hindu yang diakui kehebatannya. Bahkan sampai sekarang, mayoritas penduduk Bali masih beragama Hindu. Pada tahun 914 Masehi seperti yang tertulis dalam prasasti Sanur, diceritakan bahwa terjadi peperangan antara kerajaan Bali dnegan kerajaan Padjajaran. Peperangan ini terjadi di bawah kekuasaan raja Sri Baduga Maharaja. Perang ini juga terkenal dengan nama Perang Bubat. Kerajaan Kediri Kerajaan ini berdiri di daerah Daha, Kediri, Jawa Timur. Dari bukti-bukti yang pernah ditemukan bahwa kerajaan Kediri mempunyai seorang raja yang terkenal adil dan sangat memperhatikan kemakmuran rakyatnya. Raj atersebut bernama Jayabaya. Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-12 Masehi. Kerajaan Medang Kerajaan Medang berdiri sekitar abad ke-10 Masehi dnegan pendirinya yaitu Mpu Sindok. Sebenarnya, kerajaan Medang merupakan kerajaan pecahan dari kerajaan Mataram Kuno yang mengalami kehancuran. Mpu Sindok menamakan dinasti kekuasaannya dengan nama Dinasti Isyana. Kerajaan Medang terletak di sekitar sungai Brantas, Jawa Timur. Kerajaan Singosari Kerajaan Singosari terbentuk setelah meletusnya perang Ganter pada tahun 1222 Masehi antara kerajaan Kediri yang dipimpin oleh raja Kertajaya melawan pasukan Brahmana yang dibantu oleh Ken Arok. Setelah dinasti raja Kertajaya dapat ditaklukkan, maka berdirilah kerajaan Singosari di bawah kepemimpinan raja Ken Arok yang bergelar Kertarejasa. Kerajaan Mataram Kuno Kerajaan ini diperkirakan terbentuk sekitar abad ke-8 Masehi. Hal ini didukung dengan penemuan prasasti Canggal. Diantara raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Mataram Kuno, yang sangat terkenal adalah Dinasti Sanjaya dan dinasti Syailendra. Kerajaan Sunda Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang ada diantara tahun 932 Masehi-1579 Masehi di daerah Bogor, Jawa Barat. Pada masa perkembangannya, kerajaan ini sudah dapat menguasai sebagian wilayah selatan pula Sumatera. Sekitar abad ke-14 Masehi, ibukota kerajaan Sunda pindah ke Pakuan Pajajaran dan memiliki dua pelabuhan yang terkenal, yaitu Kalapa dan Banten. Kerajaan Sunda ditaklukkan oleh Maulana Yusuf pada tahun 1579 Masehi. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan “Kerajaan Buleleng” Sejarah & Kehidupan Politik – Sosial Budaya – Ekonomi – Agama Perkembangan Hindu Budha di Indonesia Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina. Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia, Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar, Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas, dan Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha. Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia. Hipotesis Brahmana Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur. Hipotesis Ksatria Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi peperangan antargolongan di dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. Bosch adalah salah seorang pendukung hipotesis ksatria. Hipotesis Waisya Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya. Hipotesis Sudra Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara. Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan “Suku Nias” Definisi & Asal Usul – Budaya – Bahasa – Mata Pencaharian – Agama – Kepercayaan Pada umumnya para ahli cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa masuknya budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa dan disebarluaskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Bukti tertua pengaruh budaya India di Indonesia adalah penemuan arca perunggu Buddha di daerah Sempaga Sulawesi Selatan. Dilihat dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di Amarawati India. Para ahli memperkirakan, arca Buddha tersebut merupakan barang dagangan atau barang persembahan untuk bangunan suci agama Buddha. Selain itu, banyak pula ditemukan prasasti tertua dalam bahasa Sanskerta dan Malayu kuno. Berita yang disampaikan prasasti-prasasti itu memberi petunjuk bahwa budaya Hindu menyebar di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi. Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan. Keterlibatan bangsa Indonesia didalam kegiatan perdagangan serta juga pelayaran internasional yang menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India adalah negara pertama bangsa yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yakni didalam bentuk budaya Hindu. Terdapat beberapa hipotesis yang dinyatakan para ahli megenai proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia. Hipotesis Brahmana Hipotesis adalah mengungkapkan bahwa kaum brahmana tersebut amat berperan didalam upaya penyebaran budaya Hindu diIndonesia. Para brahmana tersebut mendapat undangan dari penguasa Indonesia untukdapat menobatkan raja serta juga memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis tersebut adalah Van Leur. Hipotesis Ksatria hipotesis ksatria, peranan dalam penyebaran agama serta budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria ini. Menurut hipotesis tersebut , pada masa lampau di India sering terjadi peperangan diantar golongan pada dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau juga jenuh menghadapi perang, lantas pergi meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka terdapat juga yang sampai kewilayah Indonesia. Mereka itulah yang kemudian berusaha untuk mendirikan koloni-koloni baru ialah sebagai tempat tinggalnya. pada tempat itu juga terjadi suatu proses penyebaran agama serta juga budaya Hindu. Bosch ialah salah seorang dari pendukung hipotesis ksatria. Hipotesis Waisya Menurut pendukung hipotesis waisya ini, kaum waisya tersebut yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan didalam menyebarkan budaya Hindu ke Indonesia ini. Para pedagang tersebut banyak berhubungan dengan para penguasa dan juga beserta rakyatnya. Jalinan pada hubungan tersebut telah membuka peluang terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. Krom ialah salah satu pendukung dari hipotesis waisya tersebut. Hipotesis Sudra Von van Faber menyatakan bahwa peperangan yang tejadi pada India telah menyebabkan golongan sudra menjadi sekolompok orang buangan. Mereka kemudian pergi meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya tersebut. Dalam jumlah yang besar, diduga golongan sudralah tersebut yang memberi andil didalam penyebaran budaya Hindu ke Indonesia. para ahli menduga banyak para pemuda di wilayah Indonesia ini yang belajar agama Hindu serta Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan suatu organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh keilmuan yang banyak, mereka kembali lagi ke Indonesia untuk menyebarkannya. Pendapat ini disebut dengan Teori Arus Balik. Pada dasarnya para ahli cenderung kearah pendapat yang mengemukakan bahwa masuknya budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa serta juga disebarluaskan oleh bangsa Indonesia sendiri. Bukti tertua yang pengaruh budaya India di Indonesia ialah terdapatnya penemuan arca perunggu Buddha didaerah Sempaga Sulawesi Selatan. Dilihat dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di Amarawati India. Selain itu juga, banyak pula ditemukannya prasasti tertua didalam bahasa Sanskerta serta Malayu kuno. Berita yang disampaikan oleh prasasti-prasasti tersebut memberi petunjuk ialah bahwa budaya Hindu tersebut menyebar di Kerajaan Sriwijaya diabad ke-7 Masehi. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan “Kerajaan Samudera Pasai” Sejarah & Kehidupan Politik – Ekonomi – Sosial – Budaya Pengaruh Hindu Budha Di Indonesia Masuknya suatu ajaran yang telah lama berkembang pastinya akan meninggalkan suatu pengaruh-pengaruh di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat digolongkan ke dalam beberapa hal, yaitu Agama Sebelum mengenal ajaran Hindu-Budha, masyarakat lokal Indonesia telah menganut system kepercayaan animism dan dinamisme, yaitu kepercayaan yang mempercayai ruh nenek moyang, pohon-pohon besar, atau binatang sebagai dewa. Dengan masuknya ajaran Hindu-Budha, terjadi perubahan-perubahan di dalam masyarakat, seperti upacara-upacara keagamaan, tata karma, serta bentuk peribadatan. Pemerintahan Masyarakat Indonesia mulai mengenal system kepemerintahan sejak masuknya ajaran Hindu-Budha di Indonesia yang dikenalkan oleh orang India. Di dalam system tersebut, kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu di bawah tampuk kepemimpinan seseorang yang dianggap memiliki kemampuan terbaik dan terkuat. Oleh sebab itu, timbullah kerajaan-kerajaan di Indonesia dnegan corak Hindu-Budha. Arsitektur Salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman megalitikum pada masyarakat Indonesia adalah bangunan-bangunan seperti Punden Berundak. Dengan masuknya jaaran Hindu-Budha, maka terjadi peleburan kebudayaan antara Indonesia dan India dengan lahirnya pembuatan-pembuatan candi berbentuk limas dan bertingkat-tingkat berundak-undak. Hal ini menjadi bukti terdapatnya perpaduan antara budaya Indonesia dan India. Bahasa Sejak masuk dan berkembangnya ajaran Hindu-Budha di Indonesia, masyrakat pribumi yang dulunya belum mengenal tulisan zaman pra-sejarah berubah menjadi telah mengenal tulisan sebagai slaah satu media komunikasi zaman sejarah. Hal ini didukung dnegan penemuan prasasti-prasasti dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansakerta. Bahkan sampai saat ini, bahasa Sansakerta masih digunakan, contohnya adalah Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, dan lain-lain. Sastra Dengan masuknya ajaran Hindu-Budha di Indonesia, tidak terlepas dari masuknya pengaruh-pengaruh sastra dari India. Para penyebar ajaran Hindu-Budha membawa kitab-kitab yang menjadi rujukan, seperti Ramayan dan Mahabrata. Adanya kitab-kitab tersebut memacu semangat dari para pujangga Indonesia untuk menciptakan hal yang sama. Diantara banyak karya-karya sastra, yang terkenal adalah Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, dan kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Suku Minangkabau – Sejarah, Kebudayaan, Adat Istiadat, Kekerabatan, Bahasa, Makanan, Pakaian, Rumah Adat Perkembangan Agama Hindu Budha di Indonesia Agama Buddha tersebut diajarkan oleh Sidharta Gautama di India ditahun ± 531 SM. Ayahnya ialah seorang raja bernama Sudhodana sertaibunya Dewi Maya. Buddha artinya ialah orang yang telah sadar serta juga ingin melepaskan diri dari samsara. Kitab suci agama Buddha adalah Tripittaka artinya “Tiga Keranjang” yang ditulis dengan bahasa Poli. ada juga yang dimaksud dengan Tiga Keranjang adalah Winayapittaka Berisikan peraturan-peraturan serta juga hukum yang harus dijalankan oleh umat Buddha. Sutrantapittaka Berisikan wejangan-wejangan atau juga ajaran dari sang Buddha. Abhidarmapittaka Berisikan penjelasan mengenai soal-soal keagamaan. Pemeluk Buddha tersebut wajib melaksanakan Tri Dharma atau “Tiga Kebaktian” yakni Buddha yakni berbakti kepada Buddha. Dharma yakni berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha. Sangga yakni berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha. Selain itu agar orang dapat mencapai nirwana tersebut harus mengikuti 8 delapan jalan kebenaran atau juga Astavidha yakni Pandangan yang benar. Niat yang benar. Perkataan yang benar. Perbuatan yang benar. Penghidupan yang benar. Usaha yang benar. Perhatian yang benar. Bersemedi yang benar. Disebabkan munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menimbulkan dua aliran dalam agama Buddha yaitu Buddha Hinayana, yakni pada tiap-tiap orang dapat mencapai nirwana atas usahanya sendiri. Buddha Mahayana, yakni orang bisa mencapai nirwana dengan usaha bersama serta saling membantu. Pemeluk Buddha tersebut juga mempunyai tempat-tempat yang dianggap suci serta juga keramat yakni Kapilawastu, yakni tempat lahirnya Sang Buddha. Bodh Gaya, yakni tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi. Sarnath atau Benares, yakni tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali. Kusinagara, yakni tempat wafatnya Sang Buddha. Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari
Temukanlahkesinambungan sejarah antara masa hindu buddha dengan masa islam - 15749741 DavinciZA Jika dilihat dari perkembangan sejarah Indonesia pada masa peralihan dari masa Hindu Budha ke masa Islam, maka bisa ditemukan terjadi beberapa kesinambungan sejarah yang tidak terputus meskipun terjadi pergantian kebudayaan yang sangat

Hai Vira R, Kakak bantu jawab ya. Untuk pertanyaan diatas, jawaban yang tepat adalah D Untuk lebih jelasnya, pahamilah penjelasan berikut ini Periodisasi, yakni mengklarifikasi peristiwa-peristiwa sejarah dalam tahap-tahap dan pembabakan tertentu. Pembabakan waktu ini berguna untuk memudahkan memahami suatu peristiwa sejarah. Sebelum menyusun periodisasi, para sejarawan akan membuat klarifikasi peristiwa yang akan menjadi kajiannya, dan membuat kesimpulan-kesimpulan pada setiap periode. Periode dalam sejarah diperlukan karena penting bagi kita agar dapat mengadakan tinjauan secara menyeluruh terhadap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dan saling berhubungan dalam berbagai aspek. Berikut contoh periodisasi sejarah Indonesia 1. Masa praaksara 2. Masa kedatangan dan perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Budha 3. Masa kedatangan dan perkembangan agama Islam 4. Masa kekuasaan kolonial Barat 5. Masa pendudukan Jepang 6. Masa Revolusi 7. Masa Orde Lama 8. Masa Orde Baru 9. Masa Reformasi Semoga membantu ya.

bab 3 : proses masuknya hindu-budha dan pengaruhnya pada kehidupan masyarakat. Dalam buku Kehidupan Masyarakat Pada Masa Praakasara, Masa Hindu Budha, dan Masa Islam (2019) karya Tri Worosetyaningsih, tata kehidupan masyarakat yang diatur melalui lembaga kesukuan, berubah menjadi lembaga kerajaan atau lembaga negara.
Mahandis Yoanata Thamrin Para prajurit Keraton Yogyakarta, dari berbagai kesatuan wilayah, bersiap melakukan upacara Grebeg Syawal. kini dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, ternyata dalam proses penyebarannya agama Islam mengadopsi tradisi Hindu-Buddha. Terbukti dari bangunan masa kesultanan yang memiliki falsafah tersebut. Hal itu diungkap oleh arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar, lewat diskusi Arkeologi Al-Qur'an di Nusantara, Jumat, 9 April 2021. Dalam forum itu juga ia memperkenalkan bukunya, Lawang Seketeng, yang mencatat temuan adopsi itu. Konsep Hindu-Buddha masih digunakan berkat pendekatan ajaran Islam yang disebarkan secara damai dan perlahan. Munandar menyebut, bahkan pembangunannya kesultanan masih menggunakan para pemikir yang mengetahui konsep itu. Baca Juga Sisik Melik Makna di Balik Toponimi 'Jalan Malioboro' di Yogyakarta Adopsi konsep juga dinilai dianggap diperbolehkan, dengan syarat tak mengganggu paham akidah Islam. "Kesinambungan konsep ruang ini saya amati terus berlanjut, seperti konsep Mahamerus sebagai pusat alam semesta, konsep Triloka-yang membagi tiga dunia, konsep Dewa Penjaga Mata Angin, dan Catuspatha," paparnya. Konsep-konsep itu sebenarnya sudah dikenal di era Hindu-Buddha di Jawa, terutama di masa akhirnya, Kerajaan Majapahit. Dalam paham Hindu-Buddha di Nusantara, masyarakat kerajaan mengenal penyakralan gunung. Kemudian diadopsi di periode Islam. Ia memberi contoh penyakralan tersebut lewat tempat makam para wali di gunung, dan keraton yang memiliki wilayah kuasa di sana. "[Kesultanan] Cirebon sendiri-dekat tempat asal saya, mereka mengacu pada Gunung Ciremai yang ada di belakangnya. Itu dianggap sakral," ujarnya. Baca Juga Mudik Lewat Cirebon, Ini 5 Kuliner Khas untuk Berbuka Puasa Hafidz Novalsyah/National Geographic Traveler Seorang abdi dalem dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, membantu mengamankan prosesi Grebeg. Pada konsep Triloka yang berdampak pada sistem tata ruang Kerajaan Hindu-Buddha pun diadopsi. Ia menyebut bagaimana sistem tata ruang keraton berbagai kesultanan di Jawa masih mengikuti Majapahit. "Disadari atau tidak, tetap terlihat dalam penatapan keraton-keraton di Jawa. Coba kita lihat di Cirebon, pembagian triloka jeroan depan, belakang itu sangat nyata," jelasnya. Konsep itu meletakkan pasar di sisi utara keraton, sama halnya dengan yang ada di Jogja, pasar Beringharjo. Meski kentara dan bukan prinsipnya, itu adalah simbol bahwa sisi utara selalu identik dengan dunia kehasratan. Tata ruang ini juga kentara dengan konsep Astadikpala Delapan Dewa Penjaga Mata Angin, yang terlihat dengan konsep pintu utama keraton dan alsafah peletakan bangunan kerajaan. Konsep Astadikpala ini sendiri sudah umum di dunia arkeologi Nusantara untuk memahami ruang. Berdasarkan catatan temuan, konsep dijalankan sejak masa Mataram kuno. "Misalnya, istana Sultan kini selalu menghadap ke timur yang menyimbolkan Indra. Sebab Indra adalah rajanya para dewa," ungkapnya. "Lewat konsep ini, sultan itu identik sebagai penguasa dari timur." Baca Juga Sumpah di Perbukitan Mollo, Kemenangan Kaum Ibu Melawan Pertambangan Budi ND Dharmawan Abdi dalem Keraton Yogyakarta bersiap membakar kemenyan di kompleks makam Raja Mataram di Imogiri. Pada kasus keraton Yogyakarta, konsep Astadikpala kian nyata dengan meletakan alun-alun di sisi selatan yang menggambarkan dunia gaib dan kematian. Sisi selatan sendiri dalam konsep itu dipegang oleh dewa Yama-dewa yang akan dijumpai pertama kali oleh orang yang meninggal. Sedangkan Gunung Merapi yang sebenarnya condong di sisi timur laut Jogja, yang merupakan arah perenungan dan ketenangan. Astadikpala juga mudah ditemukan dalam rangkaian arsitektur dan gaya seni yang masih tersisa, bahkan di dalam masjid yang dikemas dengan estika Islam. Penggunaannya juga masih diaplikasikan dalam pakaian kebesaran Keraton dengan emblem dengan bentuk konsep itu. Selain Astadikpala, hal seragam yang sangat menonjol dengan sisa kebudayaan Hindu-Buddha yang diterapkan juga lewat telaga buatan. Yunaidi Joepoet Wisatawan menikmati keindahan Umbul Muncar yang terletak di Kompleks Taman Sari Yogyakarta, Minggu "Setiap kali saya ke Trouwulan, itu ada segaran atau danau buatan yang berisi air sebagai penanda kota dan pelengkap kota," paparnya dan menerangkan penggunaan segara tua yang ditemukan barulah dari masa Majaphit. Pembangunan danau buatan atau segara ini bisa dilihat di Kesultanan Cirebon lewat Balong Segara, Tasik Ardi oleh Kesultanan Banten, dan Tamansari oleh Kesultanan Yogyakarta. Danau buatan itu sendiri memiliki dua makna, prgamatis dan dan simbolis. Munandar memaparkan, secara pragmatis ialah sebagai penampung air, cadangan air kejaan, dan rekreasi. Pada sisi simbolik, tempat itu mengacu pada kekuatan makrokosmos karena tempat itu hanya boleh diisi Sultan sebagai simbol Jambudwipa. Tempat yang sering didatangi pihak Keraton di segara itu adalah pulau kecil di tengahnya untuk menyepikan diri. Baca Juga Simbol-simbol Relief Gereja Puh Sarang dalam Bingkai Hindu-Jawa "Ini simbol kekuasaan dan keunggulan raja, sebagai simbol waruna-tempat tata aturan semesta. Berarti, tanpa raja, kerajaan ini bisa kacau," tambahnya. Meski demikian, Munandar mengakui bahwa buku terbarunya yang mengkaji simbol dan konsep ini masih sekedar pengantar dan masih terbatas di Pulau Jawa saja. Ia tak menutup kemungkinan bila konsep paham ini juga diterapkan di kerajaan di luar Pulau Jawa. Harapnya, paparannya lewat buku itu bisa jadi acuan untuk studi arkeologi keislaman yang memiliki kesamaan dengan masa Hindu-Buddha lebih dalam lagi. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Materiyang saya maksud tentunya yang ada pada pelajaran Pendidikan Agama Islam. 6. Materi Pelajaran Diajarkan cara-cara berburu dan Mengajarkan tentang prinsip- 1. Usuluddin (pokok-pokok fbercocok tanam materi pelajarannya prinsip ajaran agama hindu-budha, ajaran kepercayaan) lebih menekankan kepada cara serta cara menulis huruf pallawa 2.
Kami mengulas tentang Temukan Kesinambungan Sejarah Antara Hindu Budha Dengan Masa Islam. Buku Sejarah Indonesia Wajib Sejarah Budaya Syiah Di Asia Tenggara Bayt Al Hikmah Pendidikan Agama Hindu Berita Damar Panuluh Nusantara Misteri Pria Yang Tersesat Di Kerajaan Jin Damar Panuluh Bab V Itulah yang bisa kami bagikan terkait temukan kesinambungan sejarah antara hindu budha dengan masa islam. Admin blog Seputar Sejarah 2019 juga mengumpulkan gambar-gambar lainnya terkait temukan kesinambungan sejarah antara hindu budha dengan masa islam dibawah ini. Simak Contoh Soal Sbmptn Sejarah Materi Pergerakan Nasional Untitled Buku Sejarah Kelas 10untuk Siswa Pdf Document Sebutkan 5 Negara Di Belahan Bumi Utara Timur Selatan Dan Periodesasi Sejarah Peradaban Islam Kompasianacom Baznas Provinsi Bengkulu Bersama Kemenag Seluma Monitoring Pendidikan Dan Pembelajaran March 2017 Smpmts Vii Ilmu Pengetahuan Sosial Dianarfan Asbahri Kelas 10 Sejarah1tarunasena Untitled Kota Padang Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia Bebas Pendidikan Dan Pembelajaran March 2017 Pendidikan Dan Pembelajaran Temukan Kesinambungan Sejarah Pendidikan Dan Pembelajaran March 2017 Waspada Senin 17 Desember 2018 By Harian Waspada Issuu Demikian pembahasan temukan kesinambungan sejarah antara hindu budha dengan masa islam yang dapat admin sampaikan. Terima kasih telah mengunjungi blog Seputar Sejarah 2019.
A Pengertian Sejarah Dalam masyarakat awam sejarah sering di identikkan dengan nama tokoh ,candi , tanggal , tahun dan tempat terjadinya peristiwa . kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu syajaratun , artinya pohon . sebuah pohon terdiri dari akar, dahan, ranting dan daun sehingga sejarah diartikan sebagai asal usul , riwayat dan silsilah yang menyerupai sebuah pohon dalam bahasa arab

Lengkap dengan data-data Kesinambungan Sejarah Antara Masa Hindu Budha Dengan Masa Islam. Doc Islam Radikal Dalam Konteks Sejarah Syofyan Hadi Untitled Course Modul Pendidikan Ips Perubahan Dan Kesinambungan Islam Di Nusantara Perkembangan Dan Pemaduan Dgraft Outline Doc Pendidikan Pada Masa Islam Hindu Budha Abdul Rahman Jual Hukum Dan Politik Di Indonesia Kesinambungan Daniel S Lev Kota Yogyakarta Social Agency Baru Tokopedia Itulah yang bisa kami bagikan terkait kesinambungan sejarah antara masa hindu budha dengan masa islam. Admin blog Seputar Sejarah 2019 juga mengumpulkan gambar-gambar lainnya terkait kesinambungan sejarah antara masa hindu budha dengan masa islam dibawah ini. Jelaskan Kesinambungan Sejarah Antara Masa Hindu Budha Course Modul Pendidikan Ips Perubahan Dan Kesinambungan Aktivitas Kelompok Ips Kelas 7 Hal 263 Brainlycoid Pdf Tasawuf Di Masyarakat Banjar Kesinambungan Dan Course Modul Pendidikan Ips Perubahan Dan Kesinambungan Sejarah Indonesia Sma Kelas X Book By Restu Gunawan Course Modul Pendidikan Ips Perubahan Dan Kesinambungan Buku Sejarah Indopdf Sejarah Indonesia Buku Sejarah Kelas Pendidikan Dan Pembelajaran Temukan Kesinambungan Sejarah Pdf Peran Wanita Dalam Islamisasi Jawa Abad Xv Tsabit Penobatan Raja Pada Masa Hindu Buddha Historia Jual Demokrasi Lokal Perubahan Dan Kesinambungan Nilai Nilai Budaya Politik Dki Jakarta Jaya Book Store Tokopedia Kerajaan Mughal Halaman All Kompasianacom Kehidupan Masa Praaksara Hindu Buddha Dan Islam Bu Guru Maya 12 Rpp 4 Demikian pembahasan kesinambungan sejarah antara masa hindu budha dengan masa islam yang dapat admin sampaikan. Terima kasih telah mengunjungi blog Seputar Sejarah 2019.

Sebelummasuknya pengaruh Hindu-budha, bangsa Indonesia sudah memiliki system kepercayaan tersendiri, yaitu Animisme (percaya pada roh nenek moyang) dan dinamisme (percaya pada benda). Masuknya agama Hindu-Budha mendorong masyarakat Indonesia memeluk agama Hindu-Budha. Terjadi adanya sinkritisme yaitu penyatuan paham-paham antara animisme
Squad, tahu nggak kalau berdasarkan arkeologi, terdapat beberapa pembabakan zaman di Indonesia. Dimulai dari zaman prasejarah, zaman klasik atau dikenal juga dengan zaman Hindu-Buddha, zaman Islam, dan zaman kolonial. Zaman Hindu-Buddha di Indonesia disebut juga sebagai masa klasik karena pengaruh kehadirannya yang kuat di Indonesia. Bahkan, jika ditelisik lebih jauh, pengaruh kehadiran Hindu-Buddha di Indonesia masih dapat kita lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Simak yuk pengaruh Hindu dan Buddha di masa kini! Pengaruh-pengaruh tersebut ada yang berupa pengaruh fisik dan nonfisik. Pengaruh fisik merupakan tinggalan dari zaman Hindu-Buddha yang dapat kita lihat secara fisik pada benda-benda masa kini. Sedangkan pengaruh nonfisik merupakan tinggalan yang memengaruhi adat, pola pikir, ataupun perilaku pada masyarakat masa kini. Penasaran apa saja pengaruh Hindu-Buddha di masa kini? 1. FISIK a. Wilayah Nusantara Wilayah Indonesia saat ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh kehadiran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, yaitu Singasari, Sriwijaya, dan Majapahit. Pada masa Sriwijaya, wilayah kekuasaannya meliputi daerah Malayu di sekitar Jambi, daerah yang saat ini menjadi Pulau Bangka, daerah Lampung Selatan, serta usaha Sriwijaya untuk menaklukan Pulau Jawa. Di masa Singasari, wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Pahang saat ini Malaysia, Malayu saat ini Sumatera Barat, Gurun nama pulau di Indonesia bagian timur, Bali, seluruh Pulau Jawa, Bakulapura dan Tanjungpura saat ini wilayah di barat daya Kalimantan. Peradaban Majapahit yang lebih maju dalam perniagaan dan seni serta wilayah kekuasaan yang luas, mengantarkannya menjadi salah satu kerajaan besar yang pernah ada di Asia Tenggara. Kerajaan maritim Hindu-Buddha memiliki pengaruh yang luas karena tidak terbatas hanya di daratan saja, sehingga dapat melakukan penjelajahan mengarungi lautan untuk menyebarluaskan pengaruh di bidang politik, ekonomi, dan budaya. Pada akhirnya, wilayah-wilayah kerajaan yang terbentuk pada masa itu membentuk wawasan tentang wilayah Nusantara yang sebagian besar menjadi negara Indonesia. Peta wilayah kekuasaan Majapahit. Sumber b. Bidang Arsitektur Salah satu pengaruh yang masih bertahan hingga saat ini adalah arsitektur pada bangunan di masa lalu yang banyak digunakan oleh bangunan masa kini. Beberapa bagian bangunan yang terpengaruh adalah pembagian bangunan dan halaman, atap bangunan, dan gapura. Pertama adalah bagian bangunan. Candi terdiri dari tiga bagian utama yaitu bhurloka dunia manusia, bhuvarloka dunia orang-orang yang tersucikan, dan svarloka dunia para dewa. Konsep ini kemudian diadaptasi dan saat ini dapat kamu lihat pada rumah-rumah tradisional Bali. Biasanya rumah tradisional Bali memiliki halaman yang luas dan dibagi ke dalam tiga bagian tersebut. Bangunan rumahnya terdiri dari bagian utama bagian atas bangunan, madya badan bangunan, dan nista kaki bangunan. Pembagian bagian-bagian bangunan pada rumah tradisional Bali. Selain itu, pembagian tersebut juga dapat dilihat pada halaman rumah yang dibagi menjadi tiga, yaitu jaba halaman depan, jaba tengah halaman tengah, dan jeroan halaman belakang/dalam. Selain pada pembagian bagian bangunan, pengaruh arsitektur juga dapat dilihat pada atap bangunan. Contohnya adalah Masjid Agung Demak yang menggunakan atap tumpang seperti pada pura. Atap tumpang pada Masjid Agung Demak. Sumber Selain dua hal di atas, bagian gapura juga dapat mengalami pengaruh dari Hindu-Buddha. Gapura Bajang Ratu dengan gaya arsitektur Paduraksa. Sumber Baca juga Kerajaan Hindu-Buddha Jenggala – Kediri, Singasari, dan Majapahit. Misalnya, Masjid Kudus yang dibangun oleh Sunan Kudus tahun 1549 M. Masjid ini memiliki arsitektur seperti bangunan pura pada bangunan. Selain itu, pada bagian gerbangnya memiliki bentuk gapura jenis candi bentar. Gapura siluet dan menara Masjid Agung Kudus. Sumber 2. NONFISIK a. Teknologi Perkapalan Teknologi perkapalan semakin maju sejak masa Hindu-Buddha khususnya Sriwijaya. Ciri khasnya antara lain adalah badan lambung kapal berbentuk seperti huruf V. Macam-macam bagian lambung kapal. Bentuk pertama atas adalah bentuk lambung kapal V. Sumber Ciri khas lainnya adalah bentuk haluan dan buritan yang simetris, tidak ada sekat-sekat kedap air di bagian lambungnya, tidak menggunakan paku besi dalam pembuatannya, serta kemudi berganda di kiri dan kanan buritan. Biasanya, kapal-kapal ini dibuat dengan teknik menyambung satu papan dengan papan lainnya, kemudian mengikatnya dengan tali ijuk. Kapal pada masa klasik, yang muncul pada relief di Candi Borobudur dan rekonstruksinya. Sumber b. Navigasi Pelayaran Pelayaran bangsa Indonesia pada masa kuno bergantung pada sistem angin musim. Pengetahuan tentang angin darat dan angin laut penting bagi pelaut. Untuk mengetahui arah, pada siang hari para pelaut memanfaatkan matahari, lalu di malam hari mereka menggunakan letak kelompok bintang tertentu di langit, seperti bintang mayang, bintang biduk, dan sebagainya. c. Sistem Pendidikan Jika saat ini kamu banyak menemukan sekolah yang memiliki asrama, itu adalah salah satu warisan masa klasik. Salah satu kerajaan yang terkenal dengan pendidikan agama Buddha-nya dan memiliki asrama adalah Sriwijaya. Saat itu kerajaan memiliki asrama mandala sebagai tempat untuk belajar ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu lainnya. Asrama biasanya terletak di sekitar kompleks candi dan digunakan oleh para murid. d. Bahasa dan Sistem Aksara Pada masa awal Hindu-Buddha masuk ke Indonesia dari India, Bahasa Sanskerta hanya digunakan oleh kaum pendeta. Bahasa lain yang digunakan oleh masyarakat pada masa itu adalah Bahasa Pali. Pada akhirnya, Sanskerta-lah yang banyak memengaruhi Bahasa Indonesia. Berikut beberapa kata yang telah diserap atau sering digunakan dalam Bahasa Indonesia durhaka dari kata drohaka. Bahagia dari kata bhagya. Manusia dari kata manusya. Tirta berarti air. Eka, dwi, tri berarti satu, dua, tiga. e. Upacara/Tradisi Upacara/tradisi di masa Hindu dan Buddha banyak yang bertahan hingga saat ini. Beberapa upacara atau tradisi yang bertahan hingga saat ini seperti upacara ngaben, tradisi potong gigi, hari raya Waisak, ataupun wayang. Ngaben adalah upacara kematian dengan membakar mayatnya dan abunya dibuang ke laut. Tujuannya adalah untuk melepaskan Sang Atma roh dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan Mokshatam Atmanam. Upacara Ngaben di Bali. Sumber Tradisi wayang juga masih bertahan hingga saat ini. Wayang mengalami percampuran dengan kebudayaan India melalui cerita-cerita seperti cerita Ramayana dan Mahabarata. Pagelaran wayang hingga sekarang masih sering diadakan di Indonesia mulai dari pagelaran wayang kulit, wayang golek. Itu dia, Squad, pengaruh Hindu-Buddha yang masih dapat kamu saksikan di masa kini. Tidak terasa, ya, kehadiran masa klasik di Indonesia memberikan banyak sekali pengaruh. Kamu bisa sebutkan pengaruh Hindu-Buddha di masa kini yang lain? Sebutkan di kolom komentar, yuk! Untuk kamu yang masih belum tahu, kamu bisa coba diskusikan dengan guru privat kamu di ruanglesonline. Sumber referensi Wardaya. 2009 Cakrawala Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPS. Jakarta Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Sumber foto Foto peta wilayah kerajaan Majapahit [Daring]. Tautan Diakses 18 November 2020 Foto masjid Agung Demak [Daring]. Tautan Diakses 18 November 2020 Foto gapura Bajang Ratu [Daring]. Tautan Diakses 18 November 2020 Foto gapura dan menara masjid Agung Kudus [Daring]. Tautan Diakses 18 November 2020 Foto macam-macam bagian lambung kapal [Daring]. Tautan Diakses 18 November 2020 Foto kapal Borobudur [Daring]. Tautan Diakses 18 November 2020 Foto upacara ngaben Bali [Daring]. Tautan Diakses 18 November 2020 Artikel terakhir diperbarui pada 18 November 2020
Dinastiyang pernah memerintah Jawa dari masa perkembangan pengaruh agama dan kebudayaan Hindu-Buddha hingga pengaruh Islam adalah sebagai berikut. Dinasti (Wangsya) Sanjaya (732-850 M). Dinasti Syailendra (750-900 M). Dinasti Isyana (900-1222 M). Dinasti Girindra (1222-1478 M). Dinasti Demak (1521-1568 M). Dinasti Pajang (1568-1600 M). Dinasti Sumber Sejarah 1. Zaman Batu 2. Zaman Logam 3. Zaman Hindu-Budha four. Zaman Islam v. Zaman Kolonial Peninggalan Sejarah Hindu, Buddha, dan Islam 1. Bangunan 2. Karya sastra/kitab 3. Adat istiadat Peninggalan-peninggalan Zaman Hindu-Budha Peninggalan berupa bangunan Peninggalan berupa kitab atau karya sastra Peninggalan berupa agama dan adat istiadat Peninggalan-peninggalan Bercorak Islam Peninggalan berupa kitab atau karya sastra Peninggalan berupa agama dan adat istiadat Tokoh-tokoh Sejarah pada Masa Hindu-Buddha dan Islam Tokoh Sejarah pada Masa Hindu-Budha Tokoh-tokoh Pada Masa Kerajaan Islam Hindu, Budha, dan Islam telah menjadi agama yang diakui di Republic of indonesia. Agama tersebut tidak tiba-tiba ada di Indonesia. Agama-agama itu muncul karena adanya pengaruh bangsa asing. Berdasarkan catatan sejarah, Hindu dan Budha muncul di Republic of indonesia pada abad ke-two Masehi. Agama tersebut dibawa oleh orang-orang India dan Cina. Orang-orang Cina datang ke Indonesia untuk berdagang. Biasanya, para pedagang Cina menetap sementara di daerah-daerah Indonesia. Mereka berhubungan dengan penduduk Republic of indonesia. Dari hubungan itu, ada beberapa pengaruh di antaranya agama. Sumber Sejarah Banyak sekali peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Tentu kamu mengingat peristiwa masa lalu itu. Namun, ada juga peristiwa yang kamu lupa. Cerita yang menjelaskan kehidupan manusia pada masa lampau disebut sejarah. Kehidupan tersebut meliputi berbagai peristiwa yang dialami manusia. Kamu memiliki peristiwa masa lalu. Hal itu berarti kamu kamu memiliki sejarah. Misalnya, cerita ketika kamu belajar berjalan. Bagaimana dengan sebuah negara? Apakah negara mempunyai sejarah? Tentu saja negara memiliki sejarah. Hal itu karena sebuah negara tidak terbentuk begitu saja. Ada berbagai rangkaian peristiwa sebelum terbentuknya sebuah negara. Misalnya, sejarah negara Indonesia. Indonesia melewati beberapa rangkaian peristiwa sebelum merdeka. Ada masa prasejarah, masa kerajaaan, dan masa penjajahan. Perkembangan sejarah di Republic of indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periode. Periode-periode tersebut yaitu sebagai berikut. 1. Zaman Batu Pada zaman ini, manusia menggunakan peralatan dari batu. Karenanya, zaman ini disebut zaman batu. Pada zaman ini pun, manusia memperoleh makanan dengan berburu. Kehidupan masyarakatnya masih berpindah-pindah atau nomaden. 2. Zaman Logam Pada zaman ini, manusia mulai mengenal logam. Mereka menggunakan perak atau perunggu untuk membuat peralatan. Mereka pun mulai mengenal ladang berpindah. Selain itu, mereka juga mulai menetap di suatu tempat. 3. Zaman Hindu-Budha Pada zaman ini, manusia mulai mengenal tulisan. Pada masa ini, agama Hindu dan Budha mulai berkembang di Indonesia. Selain itu, pada masa ini pun, masyarakat telah mengenal sistem pemerintahan dan kerajaan. 4. Zaman Islam Islam dibawa ke Republic of indonesia oleh para pedagang dari arab dan Gujarat Bharat. Para pedagang itu menyebarkan agama Islam ke berbagai wilayah Republic of indonesia. Akhirnya, bermunculanlah kerajaankerajaan Islam di Nusantara. 5. Zaman Kolonial Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Bangsa Eropa banyak yang datang ke Indonesia untuk berdagang. Namun, setelah melihat kekayaan Republic of indonesia, bangsa Eropa berubah pikiran. Mereka jadi ingin menguasai Indonesia. Sejak itu, Indonesia dijajah oleh beberapa negara Eropa. Peninggalan Sejarah Hindu, Buddha, dan Islam Ada banyak peninggalan sejarah yang ditemukan di Indonesia. Peninggalan-peninggalan ini dapat membantumu untuk mengetahui sejarah. Tentu saja sejarah negara kita, yaitu Indonesia. Berdasarkan jenisnya, peninggalan sejarah dapat dikelompokkan sebagai berikut. 1. Bangunan Peninggalan sejarah berupa bangunan antara lain candi, prasasti, yupa, patung, relief, gapura, masjid, dan benteng. 2. Karya sastra/kitab Karya sastra berupa kitab biasanya menceritakan kisah sebuah kerajaan. Ada juga yang menceritakan ramalan, ajaran agama, dan moral. Selain itu, ada juga karya sastra yang menceritakan tentang kepahlawanan seorang tokoh. 3. Adat istiadat Adat istiadat yaitu budaya yang berasal dari masa lalu. Budaya tersebut masih berlangsung sampai sekarang. Selanjutnya, kamu dapat mengikuti penjelasan peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia. Peninggalan yang akan dibahas yaitu peninggalan pada masa Hindu-Budha dan Islam. Peninggalan-peninggalan Zaman Hindu-Budha Agama Hindu-Budha dibawa ke nusantara oleh pedagang dan pendeta. Pedagang dan pendeta itu berasal dari India dan Cina. Mereka menempuh perjalanan melalui jalur laut dan darat. Agama Budha mulai masuk ke Indonesia sekitar abad ke-2 Masehi. Kemudian, agama Hindu menyusul masuk ke kawasan nusantara. Masuknya agama Hindu ke nusantara pada awal abad ke-five. Agama Hindu dan Budha berkembang di nusantara pada masa yang sama. Peninggalan-peninggalan Hindu-Budha yang ditemukan di Indonesia antara lain sebagai berikut. Peninggalan berupa bangunan Candi Candi merupakan bangunan yang dibuat untuk menghormati arwah penguasa atau raja yang telah meninggal. Candi berasal dari kata candikagraha. Artinya, rumah candika’. Candika adalah nama salah satu dewa durga atau dewa kematian. Ada beberapa candi peninggalan Hindu-Budha di antaranya sebagai berikut. Candi Portibi Candi Portibi merupakan peninggalan Kerajaan Panai yang bercorak Hindu. Candi Portibi terletak di Padang Balok, Gunung Tua, Provinsi Sumatera Utara. Candi ini dibangun pada1039. Candi Muara Takus Candi Muara Takus terletak di Kabupaten Kampai Provinsi Riau. Candi ini dibangun pada masa Kerajaan Sriwijaya abad ke-nine Masehi. Candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan penganut agama Hindu Mahayana. Candi Panataran Candi Panataran ditemukan di daerah Blitar. Candi ini didirikan pada masa Majapahit, yaitu pada1350. Candi Mendut Candi Mendut didirikan oleh raja Bharat pada 824. Candi ini bercorak Budha. Letaknya di sebelah timur Candi Borobudur Candi Borobudur Candi Borobudur terletak di Muntilan, Jawa Tengah. Candi ini didirikan pada 824 Masehi. Candi ini dibangun oleh Samaratungga dari Dinasti Syailendra. Candi Borobudur terdiri atas 10 tingkat. Hal itu melambangkan sebuah makna, yakni kesempurnaan hidup akan dicapai setelah mencapai 10 tingkatan. Pada permukaan dinding candi Borobudur terdapat gambar yang diukir yang disebut relief. Candi Prambanan Candi Prambanan dikenal juga dengan sebutan candi Lorojonggrang. Candi Prambanan terletak di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah. Candi ini didirikan pada masa Kerajaan mataram, yaitu abad ke8 Masehi. Candi Prambanan merupakan bangunan suci bagi agama Hindu Siwa. Di dalam candi Prambanan, tersimpan tiga arca, yaitu arca Siwa Mahadewa, Siwa Mahaguru, dan Siwa Ganesha Prasasti Prasasti merupakan peninggalan sejarah berupa batu bertulis. Isinya menceritakan penguasa pada masa pemerintahannya. Prasasti peninggalan kerajaan Hindu-Budha antara lain sebagai berikut. a Prasasti Mulawarman yang berangka tahun 400 Masehi. Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Kutai. Prasasti ini ditulis dengan huruf Palawa dan bahasa Sansekerta. b Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yaitu Prasasti Ciaruteun, Pasir Jambu, Kebon Kopi, Pasir Awi, dan Muara Ciateun. Prasasti-prasasti tersebut ditemukan di Bogor. Pada Prasasti Ciaruteun terdapat gambar telapak kaki Raja Purnawarman. Selain itu, ada juga Prasasti Cidanghiang yang ditemukan di Banten. Sementara itu, Prasasti Tugu ditemukan di Jakarta. c Prasasti peninggalan Kerajaan Kutai , yaitu Prasasti Yupa yang ditemukan di aliran Sungai Mahakam Kalimantan Timur. Di Kalimantan Timur ini, ditemukan tujuh buah Yupa. Yupa merupakan tugu bertulis yang dibuat sebagai peringatan upacara kurban. Yupa biasa digunakan sebagai penambat hewan yang akan dijadikan kurban. Yupa menerangkan bahwa Raja Mulawarman adalah raja yang mulia dan terkemuka. Beliau telah memberi sedekah ekor sapi kepada para brahmana di tanah suci Waprakeswara. Yupa ditulis dalam huruf Palawa dan bahasa Sansekerta. d Prasasti peninggalan Kerajaan Kediri yaitu Prasasti Padlegan, Weleri, Jaring, dan Pala. Prasastiprasasti tersebut ditemukan di halaman Candi Prambanan. eastward Prasasti yang mengungkapkan Kerajaan Sriwijaya . Prasasti tersebut ditulis dalam huruf Palawa dan bahasa melayu kuno. Prasasti-prasasti tersebut yaitu Prasasti Kedukan Bukit 684 Thousand ditemukan di tepi Sungai Tatang dekat Palembang. Prasasti Talang Tuo 684 Chiliad ditemukan di daerah Talang Tuo, sebelah barat Palembang Prasasti Telaga Batu tidak berangka tahun ditemukan dekat Palembang. Prasasti Kota Kapur 686 M ditemukan dekat Sungai Menduk di Pulau Bangka. Prasasti Karang Berahi tidak berangka tahun ditemukan di tepi Sungai Merangin, Jambi Hulu. Prasasti Palah Pasemah tidak berangka tahun ditemukan di tepi Sungai Pisang Lampung Selatan. Peninggalan berupa kitab atau karya sastra Kitab dan karya sastra peninggalan Hindu-Budha antara lain sebagai berikut Kitab Jangka Jayabaya ramalan Jayabaya. Jayabaya adalah raja terkenal dari Kerajaan Singhasari yang memerintah pada 1130–1150. Kitab Jangka Jayabaya berisi ramalan tentang masa depan Republic of indonesia. Smaradhana merupakan karya sastra yang ditulis oleh Mpu Dharmaja. Karya sastra ini dipersembahkan untuk Kameswara. Karya sastra ini ditulis pada masa Kerajaan Kediri. Bharatayudha, yaitu karya sastra yang ditulis oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Karya sastra ini berisi sindiran perang saudara antara Jayabaya dan Jayasabha. Karya sastra ini ditulis pada masa Kerajaan Kediri. Hariwangsa dan Gatotkacasraya, yaitu karya sastra yang ditulis oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Karya sastra ini ditulis pada masa Kerajaan Kediri. Negarakertagama, yaitu karya sastra yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Kitab ini menceritakan Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Dalam Kitab ini, termuat istilah pancasila. Kitab ini ditulis pada masa Kerajaan Majapahit. Sutasoma ditulis oleh Mpu Tantular. Ktab ini berisi ajaran agama. Di dalamnya, termuat istilah Bhineka Tunggal Ika yang menyatakan bahwa meskipun berbeda, ajaran Hindu dan Budha mempunyai asas yang sama. Kitab ini ditulis pada masa Kerajaan Majapahit. Pararaton, yaitu kitab yang mengisahkan pertempuran berdarah yang terjadi pada keturunan Ken Arok. Pada kitab ini, dikisahkan tentang Anusapati yang mengetahui Ken Arok sebagai pembunuh ayahnya Tunggul Ametung. Kemudian, Anusapati membunuh Ken Arok pada 1227 dan menggantikannya menjadi raja di Kerajaan Singhasari. Kitab ini ditulis pada masa Kerajaan Majapahit. Kunjarakunja merupakan karya sastra yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit. Kitab ini tidak diketahui pengarangnya. Arjuna Wiwaha merupakan karya sastra karangan Mpu Kanwa. Karya sastra ini ditulis pada masa Kerajaan Mataram Kono. Kitab ini bercorak Budha. Kitab Carita Parahyangan merupakan kitab yang ditulis pada masa Kerajaan Mataram Hindu. Peninggalan berupa agama dan adat istiadat Budaya dan adat istiadat peninggalan masa Hindu-Budha yang masih dilaksanakan sampai sekarang antara lain sebagai berikut. Upacara Ngaben bercorak Hindu yaitu upacara pembakaran mayat di Bali. Upacara Galungan yaitu perayaan kemenangan. Nyepi yaitu perayaan tahun baru saka. Kuningan yaitu perayaan mohon perlindungan dan penerangan agar bahagia lahir dan batin. Saraswati yaitu perayaan memuja Sang Hyang Widi. Syiwaratri yaitu perayaan peleburan dosa. Peninggalan-peninggalan Bercorak Islam Daerah di nusantara yang pertama mendapat pengaruh Islam yaitu daerah Aceh. Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Aceh yaitu Kerajaan Samudra Pasai. Berita tentang adanya Kerajaan Islam di nusantara diperoleh dari Marcopolo. Marcopolo merupakan seorang saudagar dari Venesia, Italy. Marcopolo berkunjung ke Samudra Pasai pada 1292. Ia menyebutkan bahwa di Perlak, yakni salah satu daerah di Aceh, telah banyak orang yang menganut Islam. Selain itu, berita penyebaran Islam di Republic of indonesia juga didapat dari Ibnu Batuta. Ibnu Batuta merupakan seorang pengembara dari Persia yang singgah di Aceh pada1345. Ia menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar agama Islam. Penduduk pribumi mulai memeluk Islam secara masal pada abad ke-14 Masehi. Hal itu seiring dengan mulai bermunculannya kerajaan-kerajaan Islam. Berikut ini penjelasan tentang beberapa peninggalan kerajaan-kerajaan Islam. Peninggalan berupa bangunan Masjid Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam. Selain itu, masjid juga menjadi pusat pendidikan dan pembinaan agama. Karenanya, dahulu masjid selalu terletak berdekatan dengan keraton dan alun-alun. Keraton merupakan simbol kekuasaan. Alun-alun merupakan simbol rakyat. Sementara itu, masjid merupakan simbol keagamaan. Masjid-masjid peninggalan kerajaan Islam antara lain sebagai berikut. Masjid raya Baiturahman terletak di Banda Aceh ibu kota Nangro Aceh Darussalam. Masjid ini dibangun pada masa Kerajaan Islam Aceh. Masjid Raya Medan terletak di Kota Medan, Sumatra Utara. Masjid ini dibangun oleh Sultan Deli yang bernama Makmun Al Rasyid Perkasa Alam pada 1906. Masjid Raya Banten didirikan pada tahun 1906 oleh Sultan Maulana Yusuf. Masjid Demak didirikan oleh Raden Patah sekitar abad ke-14. Masjid ini terletak di kota Demak Jawa Tengah Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjidpertama di Pulau Kalimantan. Masjid ini didirikan pada masa kekuasaan Pangeran Suriansyah yaitu abad ke-16. Istana Istana merupakan tempat tinggal raja dan keluarganya. Istana juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Istana peninggalan kerajaan Islam di antaranya sebagai berikut. Istana Maemun merupakan istana peninggalan Kerajaan Deli. Istana Maemun terletak di Kota Medan. Istana ini dibangun pada 1888 oleh Sultan Makmun Perkasa Alam. Istana Siak Sri Indrapura – Istana ini merupakan peninggalan Kerajaan Melayu Riau. Istana ini dibangun pada 1889 oleh Teungku Ngah Sayed Hasyim. Letak istana ini di hulu sungai Siak, yaitu 120 kilo meter dari Pekanbaru. Peninggalan berupa kitab atau karya sastra Peninggalan kerajaan Islam berupa kitab atau karya sastra dibedakan menjadi empat kelompok yaitu sebagai berikut. Hikayat Hikayat adalah cerita atau dongeng pelipur lara atau pembangkit semangat juang. Beberapa hikayat peninggalan Islam yaitu sebagai berikut. Hikayat Hang Tuah, yaitu cerita kepahlawanan laksamana Kesultanan Malaka. Hang Tuah merupakan seorang laksamana yang berani, pandai, dan bijaksana. Ia juga merupakan abdi raja yang taat dan setia. Hikayat Amir Hamzah, yaitu cerita tentang permusuhan Amir Hamzah dengan mertuanya yang masih kafir, yakni Raja Marsewan dari Madayin. Babad Babad adalah cerita berlatar belakang sejarah. Babad Tanah Jawi yang menceritakan sejarah Pulau Jawa dari Nabi Adam sampai tahun 1722. Babad Giyanti yang menceritakan pecahnya Kesultanan Mataram menjadi Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegara pada tahun 1757. Syair Syair adalah puisi lama yang isinya berupa cerita. Syair Abdul Muluk yang menceritakan perjuangan Siti Rafiah istri Raja Abdul Muluk yang berhasil merebut kembali tahta kerajaan dari Kerajaan Barabai di Hindustan. Gurindam 12 yang berisi petuah kepada pejabat negara, pegawai, dan orang biasa agar menjadi orang yang terhormat, disegani, dan disenangi sesama manusia. Suluk Suluk adalah kitab tasawuf. Suluk Sukarsa yang berisi tentang cerita Ki Sukarsa yang mencari ilmu sejati untuk mendapat kesempurnaan. Suluk Wujil yang berisi petuah-petuah Sunan Bonang yang disampaikan kepada Wujil orang kerdil bekas abdi Raja Majapahit. Peninggalan berupa agama dan adat istiadat Budaya dan adat istiadat peninggalan masa Islam yang masih dilaksanakan sampai sekarang antara lain sebagai berikut. Upacara Grebeg Besar di Demak Pesta Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat Budaya Dhug Dher di Semarang Seni tradisional betawi seperti Gambang Kromo dan Orkes Gambus. Tokoh-tokoh Sejarah pada Masa Hindu-Buddha dan Islam Pada masa Hindu-Budha dan Islam, banyak kerajaan yang mengalami kejayaan. Misalnya, kerajaan Majapahit, Singhasari, dan Samudra Pasai. Keberadaan kerajaan tersebut tidak terlepas dari orangorang yang mendirikannya. Bahkan, kerajaan tersebut mengalami kejayaan karena ada tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Tokoh Sejarah pada Masa Hindu-Budha Berikut ini akan dijelaskan beberapa tokoh berdasarkan masa kerajaannya Tokoh pada masa Kerajaan Mataram Lama one. Raja Sanjaya Raja Sanjaya merupakan Raja pertama yang memimpin Mataram Lama. Raja Sanjaya memerintah sekitar 732 Masehi. Raja Sanjaya berhasil membangun kembali Mataram menjadi kerajaan yang kuat. Untuk mengabadikan kekuasaannya, Raja Sanjaya membangun dinasti yang dikenal dengan nama Dinasti Sanjaya. ii Rakai Panangkaran Rakai Panangkaran merupakan Raja Mataram Lama. Ia menggantikan Raja Sanjaya. Semasa kepemimpinan Rakai Panangkaran, Kerajaan Mataram Lama berada di bawah pengaruh Kerajaan Syailendra. Pada saat itu, Kerajaan Syailendra dipimpin oleh Samaratungga. iii. Rakai Pikatan Rakai Pikatan menjadi raja Mataram Lama menggantikan Rakai Panangkaran. Rakai Pikaitan berhasil membebaskan Mataram dari pengaruh Kerajaan Syailendra. Keberhasilan itu diawali oleh perkawinan Rakai Pikaitan dengan Pramodharwardani. Pramodharwardani merupakan salah satu anggota keluarga Kerajaan Syailendra. Rakai Pikatan dan Pramodharwardani banyak mendirikan candi. Candi tersebut antara lain Candi Sewu, Plaosan, dan Prambanan. four. Dyah Balitung Raja Dyah Balitung memerintah pada 898–910. Pada masa pemerintahannya, ia mampu menguasai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia memerintah dengan bijaksana. Dengan begitu, kerajaannya aman dan makmur. Tokoh pada masa Kerajaan Medang kamulan Mataram Jawa Timur 1. Mpu Sindok Mpu sindok mempunyai gelar Mpu Sindok Sri Isana Tunggawijaya. Mpu Sindok memerintah pada 929–947 Masehi. Mpu Sindok memerintah dengan bijaksana. Ia pun selalu memerhatikan kesejahteraan rakyatnya. Karenanya, kehidupan rakyat aman dan tentram. Kemudian, Mpu Sindok diganti oleh putrinya bernama Sri Isana Tunggawijaya. Sri Isana Tunggawijaya mempunyai suami bernama Lokapala. Dari pernikahannya, lahir seorang putra bernama Makutawangsawardhana. Makutawangsawardhana mempunyai seorang putri bernama Mahendradatta. Mahendradatta menikah dengan Pangeran Udayana yang berasal dari Bali. Dari pernikahan itu, lahir Airlangga. 2. Dharmawangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa Dharmawangsa Teguh menggantikan Makutawangsawardhana menjadi raja Medang Kamulan. Dharmawangsa Teguh yang sangat berambisi untuk meluaskan kekuasaannya sampai ke luar Jawa. Namun, kerajaan mengalami keruntuhan oleh raja bawahannya sendiri. Pada Prasasti Pucangan diceritakan bahwa tidak lama setelah perkawinan Airlangga dengan putri Dharmawangsa, ibu kota diserang oleh pasukan Haji Wurawari. Kejadian itu membuat Sri Maharaja Dharmawangsa Teguh meninggal dunia. iii. Airlangga Airlangga menjadi raja setelah Dharmawangsa Teguh. Pada masa kepemimpinannya, dipenuhi dengan peperangan menaklukkan raja-raja bawahan yang memberontak dan melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Situasi mulai berubah sejak 1024. Setelah kerajaan mulai aman, Airlangga mengarahkan kebijakannya pada peningkatan perekonomian. Di bidang pertanian, ia berusaha memodernkan irigasi. Untuk itu, dibangun bendungan Waringin Sapta di Kali Brantas. Pengembangan perdagangan pun menjadi perhatian. Hal itu terlihat dari perbaikan Pelabuhan Ujung Galuh. Berkat jerih payah Airlangga, perekonomian kerajaan kembali stabil dan rakyat hidup makmur. Keuletan dan keberhasilan Airlangga dalam memimpin kerajaan tertulis dalam Kitab Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa. Menjelang akhir hayatnya, Airlangga hidup sebagai petapa di Pucangan. Ia wafat dalam usia lanjut, yaitu pada 1049 M. Untuk mengenang jasa-jasa Airlangga, dibangun sebuah patung raja dalam bentuk penjelmaan Dewa Wisnu yang sedang mengendarai burung garuda. Patung tersebut dibangun di tempat pertapaannya. Airlangga dimakamkan di Candi Belahan. Tokoh pada masa Kerajaan Kediri 1. Raja Jayawarsa Raja Jayawarsa merupakan raja Kediri. Dalam Prasasti Sirah Keting diceritakan bahwa Jayawarsa merupakan raja yang arif dan sangat mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. 2. Raja Bameswara Raja Bameswara dikenal sebagai raja yang banyak meninggalkan prasasti tentang masalah keagamaan. 3. Raja Jayabaya Jayabaya menggantikan Raja Bameswara. Ia naik takhta pada 1135 Masehi. Dalam Prasasti Talan dijelaskan tentang Jayabaya yang memindahkan Prasasti Ripta menjadi Prasasti Dinggopala. Dalam prasasti itu, Jayabaya disebutkan sebagai penjelmaan Dewa Wisnu dengan lencana narasingha atau narasimha. Keterangan dalam Prasasti Ngantang menyebutkan bahwa Panjalu Jayati memiliki arti Kediri menang’. Kata itu diduga berkaitan dengan kemenangan Panjalu atas Jenggala. Hal itu juga untuk menunjukkan bahwa Jayabaya adalah pewaris tahta kerajaan yang sah dari Airlangga. 4. Sri Gandra Sri Gandra merupakan raja Kediri yang berjasa. Pada masanya, angkatan laut Kediri menjadi kuat dan disegani oleh Sriwijaya. Selain itu, jabatan Senopati Sarwajala mulai dikenal. Pada waktu itu, Kediri mendapat kewenangan untuk mengawasi perairan nusantara bagian timur. Sementara itu, lautan nusantara bagian barat di bawah pengawasan Sriwijaya. Meskipun begitu, kedua kerajaan tersebut tetap damai. Sejak masa Sri Gandra, pejabat-pejabat kerajaan memakai sebutan binatang yang ditiru sifatnya. Misalnya, Menjangan Puguh, Macan Putih, dan Kebo Salawah. v. Kameswara Kameswara merupakan raja Kediri yang memerintah setelah Sri Gandra. Pada masa Kameswara, seni sastra di Kediri berkembang dengan pesat. half dozen. Kertajaya Kertajaya menjadi raja kediri setelah Kameswara. Pada masa Kertajaya, di Kediri sering terjadi konflik antara raja dengan kaum Brahmana. Raja menuntut para Brahmana menyembahnya karena menganggap dirinya sebagai titisan dewa. Namun, para Brahmana menolak. Para Brahmana itu meminta bantuan kepada Ken Arok kuwu dari Tumapel untuk menggulingkan pemerintahan Kertajaya. Akhirnya, pecahlah pertempuran antara Kediri dengan Tumapel di desa Ganter pada 1222 Masehi. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Kediri mengalami kekalahan. Kertajaya terluka parah dan meninggal dunia. Peristiwa itu sekaligus menandai runtuhnya kerajaan Kediri. Tokoh pada masa Kerajaan Singhasari i. Ken Arok Ken Arok menjadi raja Singhasari pada 1222–1227. Ia mendirikan dinasti baru yang bernama Girindrawangsa. Ken Arok meninggal karena terbunuh oleh seseorang suruhan Anusapati, anak tiri Ken Arok. Ken Arok dimakamkan di Kagenengan dalam bangunan Syiwa-Budha. 2. Anusapati Anusapati merupakan anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung. Sebelum menikah dengan Tunggul Ametung, Kendedes menikah dengan Ken Arok. Anusapati memerintah di Kerajaan Singhasari pada 1227–1247. Ia menggantikan Ken Arok. Namun, pembunuhan Ken Arok oleh Anusapati pada akhirnya diketahui oleh Tohjaya. Tohjaya merupakan anak Ken Arok dari Ken Umang. Kemudian, Anusapati dibunuh oleh Tohjaya. Anusapati dimakamkan di candi Kidal. 3. Tohjaya Setelah kematian Anusapati, Tohjaya menjadi raja Singhasari. Tohjaya memerintah dari 1247 sampai 1248. Pada saat Tohjaya memerintah, Ranggawuni, anak Anusapati menuntut balas atas kematian ayahnya. Ranggawuni juga merasa berhak menjadi raja Singhasari. Kemudian, Ranggawuni bekerjasama dengan Mahisa Campaka cucu Ken Arok dan Ken Dedes menyerang Tohjaya. Saat itu, Tohjaya meninggal di Katang Lumbang karena luka-luka. 4. Ranggawuni Ranggawuni menjadi raja setelah Tohjaya meninggal. Pada saat pemerintahan Ranggawuni, dendam keluarga di Singhasari telah hilang. Hal itu membuat pemerintahannya berjalan dengan aman dan tenteram. Pada waktu pemerintahan Ranggawuni, Mahisa Campaka diberi kedudukan sebagai pendamping raja. Mahisa Campaka diberi gelar Ratu Angabaya. five. Kertanegara Kertanegara menjadi raja Singhasari pada 1268–1292. Pada masa pemerintahan Kertanegara, Kerajaan Singhasari mencapai puncak kejayaannya. Raja Kertanegara berusaha mempersatukan wilayah nusantara. Tokoh pada masa Kerajaan Majapahit ane Raja Jayanegara Raja Jayanegara merupakan anak Raden Wijaya. Raden Wijaya yaitu raja pertama Majapahit. Jayanegara atau Kalagemet memerintah pada 1309–1328 Masehi. Pada masa pemerintahan Jayanegara, banyak pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan itu datang dari orang-orang yang berjuang dengan Raden Wijaya. Namun, mereka tidak diberikan jabatan. Pemberontakpemberontak tersebut antara lain Ranggalawe 1309 M, Lembu Sora 1311 1000, Nambi 1316 M, dan Kuti 1319 1000. Pemberontakan Kuti merupakan pemberontakan yang paling berbahaya. Pemberontakan tersebut hampir meruntuhkan kerajaan Majapahit. Namun, berkat Gajah Mada, Raja Jayanegara dapat kembali ke Kerajaaan Majapahit. Karena jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi patih di Kahuripan, lalu dingkat menjadi patih di Kediri. 2 Tribuwanatunggadewi Tribuwanatunggadewi merupakan cucu Raja Jayanegara dari anaknya yang bernama Gayatri. Tribuwanatunggadewi menjadi raja Majapahit pada 1328–1350 Masehi. Pada masa pemerintahan Tribuwanatunggadewi, terjadi pemberontakan Sadeng 1331 Masehi. Nama Sadeng merupakan nama sebuah daerah yang terletak di Jawa Timur. Pemberontakan Sadeng dapat dihentikan oleh Gajah Mada dan Adityawarman. Atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Amangkhabumi Majapahit menggantikan Arya Tadah. Pada waktu penobatannya, Gajah Mada mengucapkan “Sumpah Palapa”. Isi sumpah tersebut yaitu Gajah Mada tidak akan makan buah palapa sebelum nusantara bersatu di bawah naungan Majapahit. 3 Hayam Wuruk Hayam Wuruk adalah anak Tribhuwana Wijayatunggadewi. Ia dilahirkan pada 1334. Hayam Wuruk berarti “Ayam yang masih muda”. Hayam Wuruk menjadi Raja Majapahit ketika berumur 16 tahun. Ia menikah dengan Padukasari. Hayam Wuruk dianggap sebagai raja terbesar Majapahit karena pada masa pemerintahannya Majapahit mencapai wilayah terluas. Pada 1351, terjadi Perang Bubat. Peristiwa ini terjadi pada saat Hayam Wuruk bermaksud menikahi puteri Raja Pajajaran yang bernama Diah Pitaloka Citrasemi. Pajajaran setuju asal Majapahit tidak menguasai wilayah Pajajaran. Saat Hayam Wuruk di perjalanan menuju upacara pernikahan, Gajah Mada mendesak agar Pajajaran tunduk pada Majapahit dan menyerahkan Diah Piataloka sebagai upeti. Pajajaran menolak permintaan Gajah Mada. Akhirnya, terjadi Perang Bubat. Dalam peristiwa ini, seluruh keluarga Pajajaran tewas. Beberapa tahun kemudian, Pajajaran menjadi wilayah Majapahit. four Gajah Mada Gajah Mada merupakan seorang tokoh politik, pejuang negara, dan seorang negarawan besar. Dengan sepenuh hati, Gajah Mada mengabdikan dirinya untuk keagungan negeri dan mahkota. Sikap pengabdian Gajah Mada ini terungkap dalam pokok-pokok sifat pribadinya sebagai berikut. Satya bhakti aprabhu, yang berarti setia dan bakti kepada negara dan mahkota. Tan satresna, yang berarti tidak pernah memikirkan kepentingan diri pribadi dan balas jasa. Hanyaken musuh, yang artinya menghalau dan memusnahkan segenap musuh negara dan mahkota. Prabu ginung pratidina, yang artinya mengagungkan nama raja dan negara setiap waktu Tokoh-tokoh Pada Masa Kerajaan Islam Sultan Malik Every bit Saleh Sebelum menganut Islam, Sultan Malik As Saleh bernama Marah Sile atau Merah Selu. Ia merupakan pendiri Kerajaan Samudera Pasai. Saat Pemerintahannya, Sultan Malik As Saleh memperluas daerah kekuasaannya sampai ke daerah-daerah seperti Tamiang, Balek Bimba, Samer Langga, Simpang Bulah Telang, Perlak, dan Takus. Penduduk daerah-daerah yang dikuasai Sultan Malik As Saleh menjadi penganut Islam. Setelah wafat, Malik As Saleh dimakamkan di Samudera Pasai. Di atas makamnya, dibangun batu nisan yang berciri Islam. Batu nisan tersebut berangka tahun 635 Hijriyah atau 1297 Masehi. Dari batu nisan tersebut, diketahui bahwa Samudera Pasai merupakan kerajaan pertama di Indonesia. Dengan wafatnya Sultan Malik As Saleh, tahta kerajaan Samudera Pasai turun kepada anaknya yang bernama Sultan Muhammad Malik At-Thahir. Iskandar Syah Nama asli Iskandar Syah yaitu Paramisora. Ia merupakan seorang pangeran dari Majapahit yang melarikan diri saat terjadi perang saudara. Perang tersebut dikenal dengan sebutan perang Paregreg. Ia mendatangi satu daerah di Semenanjung Malaya. Kemudian, daerah tersebut diberi nama Malaka. Iskandar Syah memerintah pada 1396–1414. Iskandar Syah berhasil menjadikan Malaka sebagai kerajaan Islam. Bahkan, ia berhasil menjadikan Malaka sebagai kerajaan penting di Selat Malaka. Muhammad Iskandar Syah Muhammad Iskandar Syah menjadi raja Malaka menggantikan ayahnya Sultan Iskandar Syah. Muhamad Iskandar Syah memimpin pada 1414–1424. Pada masa pemerintahannya, kekuasaan Kerajaan Malaka mencapai seluruh Semenanjung Malaya. Muhammad Iskandar Syah menikah dengan putri Raja Samudera Pasai. Dalam kekuasaanya, Kerajaan Malaka mengalami kejayaan. Ia mampu menjadikan Malaka sebagai pusat perdagangan dan pelayaran. Karenanya, Malaka disebut sebagai Kerajaan Maritim. Namun, saat ia memerintah, ada pemberontakan dari saudaranya yang bernama Mudzafat Syah. Mudzafat Syah berhasil merebut kekuasaan Muhammad Iskandar Syah. Mudzafat Syah menjadi Raja Malaka menggantikan Muhammad Iskandar Syah. Mudzafat Syah merupakan raja Malaka pertama yang menggunakan gelar sultan. Setelah Mudzafat Syah meninggal, Kerajaan Malaka dipimpin oleh putranya yang bernama Mansyur Syah. Sultan Mansyur Syah Sultan Mansyur Syah berkuasa pada 1458–1477. Pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah, Malaka mengalami masa kejayaan sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara. Perluasan wilayah kekuasaan Kerajaan Malaka pada masa Sultan Mansyur Syah sampai ke Semenanjung Malaya, Sumatra Tengah, dan Kerajaan Siam. Sultan Mansyur Syah memperluas daerah kekuasaan dengan bantuan Laksamana Hang Tuah. Laksamana Hang Tuah merupakan seorang panglima laksamana yang terkenal di Malaka. Setelah wafat, Sultan Mansyur Syah digantikan oleh anaknya yang bernama Alauddin Syah. Sultan Alauddin Syah memerintah pada 1477–1488. Pada masa pemerintahan Alauddin Syah, kerajaan Malaka mulai merosot. Beberapa kerajaan yang dikuasai Malaka banyak yang membebaskan diri. Selanjutnya, Kerajaan Malaka dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah. Ia memerintah pada 1488–1511. Sultan Ali Mughayat Syah Sultan Ali Mughayat Syah merupakan raja Kerajaan Aceh. Ia menguasai perdagangan di bagian barat Indonesia. Untuk mempertahankan kekuasaan perdagangan itu, Sultan Ali Mughayat Syah memperluas pengaruhnya ke Pidie Pasai dan bagian timur Sumatra. Ia juga menyerang bangsa Portugis di Malaka. Setelah wafat, Sultan Ali Mughayat Syah digantikan oleh Sultan Salahuddin. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin, Kerajaan Aceh mengalami kemunduran. Sultan Alauddin Riayat Syah Sultan Alauddin Riayat Syah merupakan raja Aceh pengganti Sultan Salahudin. Sultan Alauddin Riayat Syah bergelar Al-Qahar. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Aceh kembali mengalami kejayaan. Bahkan, Kerajaan Aceh menjadi bandar utama di Asia bagi para pedagang muslim mancanegara. Sultan Iskandar Muda Sultan Iskandar Muda menggantikan Sultan Alauddin Riayat Syah menjadi raja Aceh. Dalam kekuasaannya, ia memperkuat Kerajaan Aceh sebagai pusat perdagangan. Bahkan, ia melakukan beberapa perlawanan berikut. Merebut sejumlah pelabuhan penting di pesisir barat dan timur Sumatra dan pesisir barat Semenanjung Melayu. Menyerang kedudukan Portugis di Malaka dan kapal – kapalnya yang melalui Selat Malaka. Aceh sempat memenangkan perang melawan armada Portugis di sekitar Pulau Bintan pada 1614. Bekerja sama dengan EIC Inggris dan VOC Belanda untuk memperlemah pengaruh Portugis. Sultan Iskandar Muda mengizinkan persekutuan dagang dengan Inggris dan Belanda untuk membuka cabangnya di Aceh. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, raja Aceh digantikan oleh menantunya yang bernama Sultan Iskandar Thani. Raden Patah Raden Patah atau Jim-Bun merupakan pendiri Kesultanan Demak pada 1478. Raden Patah merupakan anak Brawijaya, Raja Majapahit. Ibunya yaitu seorang putri keturunan Champa perbatasan Kamboja dan Vietnam yang beragama Islam. Ibu Raden Patah memiliki ketidakcocokan dengan permaisuri Raja Brawijaya. Karenanya, dengan berat hati Brawijaya menyingkirkan sang Ibu ke Palembang. Ia menyerahkan ibunya kepada adipati Palembang Arya Sedamar. Raden Patah dilahirkan di Palembang. Pada usia belasan tahun, Raden Patah berlayar ke Pulau Jawa untuk belajar di Ampel Delta. Raden Patah meninggal pada 1518. Ia meninggalkan dua orang putra, yaitu Pangeran Seda Sekar Lepen dan Pangeran Trenggono. Ia juga meninggalkan dua orang menantu, yaitu Pati Unus dan Fatahillah. Setelah Raden Patah mangkat, Pangeran Trenggono diangkat menjadi raja menggantikan Raden patah. Sultan Trenggono Sultan Trenggono merupakan raja Demak yang menggantikan Raden Patah. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaan. Ia menjadikan Demak sebagai pusat kekuasaan di Jawa dan salah satu pusat penyebaran agama Islam di nusantara. Selain itu, Sultan Trenggono memperluas kekuasaaan Demak sampai ke sebagian Jawa Barat, Jayakarta, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Penaklukan pesisir utara Jawa Barat dilakukan oleh Fatahillah, yang turut merintis berdirinya Kerajan Banten dan Cirebon. Sunan Gunung Jati Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah. Ia merupakan pendiri kerajaan Cirebon. Dalam kekuasaannya, ia berhasil menjadikan Cirebon sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Sultan Ageng Tirtayasa Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu raja Banten. Ia merupakan putra Abu Mufakhir. Ia naik takhta menggantikan Abu’Ma’ali. Di bawah kepimpinannya, Kerajaan Banten mengalami puncak kejayaan. Ia mempertahankan Banten sebagai pusat perdagangan di nusantara dengan bersikap tegas menolak VOC Belanda. Saat itu, VOC ingin menerapkan monopoli perdagangan. Sultan Hasanuddin Sultan Hasanuddinbernama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Ia dilahirkan di Makasar. Ia merupakan putra kedua dari Sultan Malikussaid. Sultan Hasanuddin merupakan raja Gowa ke-16. Kerajaan Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah Indonesia Timur yang menguasai jalur perdagangan. Setelah memeluk agama Islam, Sultan Hasanuddin mendapat gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana. Namun, ia lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin. Karena keberaniannya, Sultan Hasanuddin dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda. Artinya, “ayam jantan/jago dari Benua Timur. Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari takhta kerajaan. Ia wafat pada 12 Juni 1670 dan dimakamkan di Katangka, Makassar. Pencarian Populer peninggalan jaman dulu agama islam hindu dan budha,peninggalan kerajaan pada masa hindu islam,peninggalan sejarah masa kerajaan pada masa hindu islam,tokoh dan peninggalan masa kerajaan hindu budha dan islam 0JSDF6.
  • o7g1e96c2y.pages.dev/389
  • o7g1e96c2y.pages.dev/392
  • o7g1e96c2y.pages.dev/314
  • o7g1e96c2y.pages.dev/185
  • o7g1e96c2y.pages.dev/314
  • o7g1e96c2y.pages.dev/97
  • o7g1e96c2y.pages.dev/223
  • o7g1e96c2y.pages.dev/240
  • o7g1e96c2y.pages.dev/46
  • kesinambungan sejarah antara masa hindu budha dengan masa islam